Lulusan SLTA Membuat Pengangguran Bertambah
BANTUL, Kompas - Lulusan SLTA yang baru saja diumumkan seminggu kemarin akan menambah jumlah pengangguran di Bantul. Dari sekitar 7.000 lulusan SLTA, diperkirakan hanya 60 persen saja yang melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Sebagian diantaranya akan menjadi pengangguran baru.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bantul Sugeng Sudaruno, Jumat (20/6) di kantornya mengatakan, mahalnya biaya pendidikan di perguruan tinggi membuat masyarakat kesulitan menyekolahkan anaknya. "Karena tidak ada biaya, sebagian lulusan SLTA hanya menjadi pengangguran baru," katanya.
Akhir tahun 2007, pengangguran di Bantul tercatat 34.156 orang. Tambahan pengangguran baru dari lulusan siswa SLTA diperkirakan mencapai 1.000 orang. "Tidak semua yang tidak melanjutkan menjadi pengangguran, sebagian bisa mendapatkan pekerjaan sebagai buruh atau menikah," katanya.
Setiap tahunnya, jumlah pengangguran baru di Bantul berkisar 2.000 orang. Selain dari lulusan SLTA, mereka berasal dari buruh pabrik yang dirumahkan atau di-PHK oleh perusahaanya.
"Perusahaan-perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan biasanya menekan biaya produksi dengan merumahkan karyawan. Hal ini memicu pengangguran baru," katanya.
Tingginya tingkat pengangguran di Bantul ternyata tidak iikuti dengan penyerapan tenaga kerja yang signifikan. Sampai dengan bulan Mei, penyerapan tenaga kerja baik untuk kategori angkatan kerja lokal (Akal), angkatan kerja antar daerah (Akad), dan angkatan kerja antar negara (Akan) hanya tercatat 494 orang.
Kepala Subdinas Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kerja Disnakertrans Bantul Bambang Sugiyantoro, yang mendampingi Sugeng Sudaruno mengatakan, untuk mendongkrak penyerapan kerja pihaknya menyarankan pihak sekolah membuka Bursa Kerja Khusus (BKK). Lewat BKK, semua i nformasi lowongan pekerjaan bisa diakses siswa. Pihak sekolah juga bisa mengadakan seleksi bersama dengan pihak pencari tenaga kerja. ENY
|