Mengatasi Pekerja Anak dengan Pendidikan
Jurnal Nasional: PENYEBAB utama anak di bawah umur terjun menjadi pekerja adalah karena putus sekolah dan harus membantu ekonomi keluarga. Padahal, sebagaian besar pekerja anak berusia 10-14 tahun dan harus bekerja dengan jam kerja yang panjang dan menghadapai kondisi yang berbahaya. Mereka ada di pabrik, pasar, jalan raya, terminal, hinggá ke pertambangan.
Umumnya, pekerja anak tak pernah dapat desempatan untuk mencicipi bangku sekolah. Meski sebenarnya pendidikan bisa memberi mereka masa depan yang lebih baik. Hal tersebut dikatakan Kepala Penasehat Teknis International Programme on the Elimination of Child (IPEC), Arum Retnowati, di Jakarta, Kamis (26/6).
"Itu kan karena biaya pendidikan sangat besar, keluarga yang menggantungkan hidup dari pekerjaan sang anak, dan karena sekolah tidak tersedia di sekitar mereka," kata Arum.
Deputi International Labour Organization (ILO) Indonesia, Peter van Rooij menambahkan bahwa anak yang bekerja merupakan hambatan utama terwujudnya pemerataan pendidikan untuk semua masyarakat. "Anak yang bekerja full time tentu tak bisa berangkat sekolah, sedang anak yang bekerja sambil bersekolah biasanya berujung pada putus sekolah di tengah jalan," ujarnya.
Berdasarkan data yang dirangkum dari seluruh dunia, ILO memperkirakan, bahwa sebagian besar dari 75 juta anak yang tidak lupus pendidikan dasar mulai bekerja pada usia dini. Indonesia saja, pada 2004, memiliki pekerja anak sejumlah 1,4 juta orang. Fakta ini membuktikan bahwa pendidikan merupakan hal penting dalam mematahkan lingkaran pekerja anak dan kemiskinan serta menghapuskan bentuk-bentuk terburuk pekerjaan untuk anak pada tahun 2016. Ika Karlina Idris
|